BINANGUN, CILACAP – Suasana khidmat dan penuh semangat menyelimuti Masjid Nurul Huda, yang berlokasi di kompleks Yayasan Al Muaddib, Binangun, Cilacap. Ratusan jamaah tampak antusias mengikuti kegiatan “Pengajian Rutin Ahad Kedua” pada hari Ahad, 9 November 2025.
Kajian yang dimulai tepat pukul 09.30 WIB ini menghadirkan seorang pemateri dari Purbalingga, Ust. Fery Nuryadi, yang juga merupakan pengajar di PPTQ Ibnu Mas’ud Purbalingga.
Pada kesempatan tersebut, Ust. Fery Nuryadi membawakan sebuah tema yang menggugah kesadaran jamaah, yakni “Dari Penonton Menjadi Pejuang”.
Dalam pemaparannya, Ust. Fery mengajak jamaah untuk tidak lagi menjadi muslim yang pasif atau “penonton”. Menurutnya, seorang penonton adalah mereka yang merasa cukup dengan kesalehan individualnya saja —rajin shalat, puasa, dan berdzikir— namun kurang memiliki kepekaan atau kontribusi nyata terhadap lingkungan sekitarnya.
“Sudah saatnya kita beralih,” tegas Ust. Fery, “dari sekadar menjadi penonton yang hanya fokus pada ibadah fardi (individual), menjadi seorang pejuang yang aktif dalam ibadah sosial.”
Beliau menekankan sebuah poin krusial dalam syariat Islam yang sering terlupakan, yaitu keutamaan ibadah sosial. Ust. Fery menjelaskan bahwa dalam banyak konteks, pahala dan dampak dari ibadah sosial jauh melampaui ibadah individual yang bersifat sunnah.
Sebagai dalil penguat, beliau membawakan sebuah hadis Nabi Muhammad SAW yang sangat menohok.
أَحَبُّ النَّاسِ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ, وَأَحَبُّ الْأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى سُرُورٌ تُدْخِلُهُ عَلَى مُسْلِمٍ, أَوْ تَكْشِفُ عَنْهُ كُرْبَةً, أَوْ تَقْضِي عَنْهُ دَيْنًا, أَوْ تَطْرُدُ عَنْهُ جُوعًا. وَلَأَنْ أَمْشِيَ مَعَ أَخٍ فِي حَاجَةٍ أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ أَنْ أَعْتَكِفَ فِي هَذَا الْمَسْجِدِ – يَعْنِي مَسْجِدَ الْمَدِينَةِ – شَهْرًا, وَمَنْ كَفَّ غَضَبَهُ سَتَرَ اللَّهُ عَوْرَتَهُ, وَمَنْ كَظَمَ غَيْظَهُ – وَلَوْ شَاءَ أَنْ يُمْضِيَهُ أَمْضَاهُ – مَلَأَ اللَّهُ قَلْبَهُ رَضًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ, وَمَنْ مَشَى مَعَ أَخِيهِ فِي حَاجَةٍ حَتَّى يَتَهَيَّأَ لَهُ أَثْبَتَ اللَّهُ قَدَمَهُ يَوْمَ تَزُولُ الْأَقْدَامُ “
Rasulullah bersabda, Manusia yang paling dicintai Allah Ta’ala adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lain. Dan amalan yang paling dicintai Allah Ta’ala adalah kegembiraan yang engkau masukkan ke dalam hati seorang muslim, atau engkau menghilangkan salah satu kesusahannya, atau engkau membayarkan utangnya, atau engkau menghilangkan rasa laparnya. Dan sungguh, aku berjalan bersama seorang saudaraku untuk (memenuhi) suatu kebutuhannya, itu lebih aku cintai daripada aku beri’tikaf di masjidku ini (Masjid Nabawi) selama sebulan. Dan barangsiapa menahan amarahnya, Allah akan menutupi aibnya. Dan barangsiapa menahan kemarahannya—padahal jika ia mau, ia bisa melampiaskannya—maka Allah akan penuhi hatinya dengan keridhaan pada hari kiamat. Dan barangsiapa berjalan bersama saudaranya untuk (memenuhi) suatu kebutuhannya hingga tuntas, maka Allah akan kokohkan telapak kakinya pada hari ketika banyak telapak kaki tergelincir (hari kiamat).” (HR. Ath-Thabarani, dihasankan oleh Syaikh Al-Albani)
Hadis ini, menurutnya, menjadi sebuah tolok ukur yang jelas bahwa Islam tidak hanya mengatur hubungan vertikal manusia dengan Tuhannya, tetapi sangat menekankan pentingnya hubungan horizontal antar sesama manusia.
“Seorang ‘pejuang’ adalah dia yang peka, dia yang gelisah ketika melihat tetangganya kesusahan. Dia yang bergerak ketika ada saudaranya yang sakit. Dia yang hadir menjadi solusi, bukan hanya sibuk dengan kesalehannya sendiri.”
Kajian yang berlangsung hingga pukul 11.00 WIB ini diharapkan dapat mengubah paradigma jamaah Masjid Nurul Huda untuk lebih aktif dalam kegiatan sosial kemasyarakatan, sebagai manifestasi nyata dari ibadah mereka.